Terpopuler: Kontroversi Kendaraan Wajib Asuransi, Respons Erick Thohir lalu Jokowi usai Whoosh Dituding Rugikan Wika
Jakarta – Berita terpopuler ekonomi serta perusahaan pada Ahad, 21 Juli 2024 dimulai dari penolakan fraksi PKS berhadapan dengan rencana pemerintah mewajibkan asuransi kendaraan bermotor.
Berikutnya ada berita tentang pembelaan Erick Thohir masalah Whoosh yang mana disebut merugikan BUMN dan juga respons YLKI masalah kenaikan HET MinyaKita. Lalu ada berita tentang empat pesawat dikerahkan untuk pengubahan cuaca di dalam IKN kemudian penegasan Le Minerale tidak ada terafiliasi perusahaan Israel.
Kelima berita itu terpantau paling sejumlah diakses oleh para pembaca kanal Sektor Bisnis lalu Bisnis Tempo.co. Berikut ringkasan lima berita trending tersebut.
1. Anggota Dewan Angka Wajib Asuransi Kendaraan Bebani Masyarakat: Pajak Kendaraan Bermotor Saja Nunggak
Politikus Partai Keadilan Sejahtera atau PKS Suryadi Jaya Purnama mengungkapkan fraksinya dalam Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR menolak rencana pemerintah mewajibkan asuransi bagi kendaraan bermotor. Dia menyimpulkan alasan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK yang tersebut melempar rencana wajib asuransi kendaraan ke umum asal-asalan.
“Fraksi PKS menolak kewajiban asuransi bagi kendaraan bermotor, apalagi hanya saja dikarenakan pendapat OJK yang digunakan asal-asalan mengutip UU P2SK (Pengembangan kemudian Perkuatan Bagian Keuangan),” kata Suryadi pada pernyataan tertoreh pada Ahad, 21 Juli 2024.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana menerapkan wajib asuransi bagi kendaraan tahun depan. Rencana ini akan diterapkan setelahnya Presiden Joko Widodo atau Jokowi meneken Peraturan eksekutif melalui Kementerian Keuangan terkait tindakan lanjut dari Undang-Undang Pengembangunan kemudian Perkuatan Industri Keuangan (P2SK).
Simak lebih banyak berjauhan tentang kontroversi wajib asuransi kendaraan bermotor pada sini.
- 1
- 2
- 3
- Selanjutnya
Artikel ini disadur dari Terpopuler: Kontroversi Kendaraan Wajib Asuransi, Respons Erick Thohir dan Jokowi usai Whoosh Dituding Rugikan Wika





