Arab Saudi Mau Terima Yuan untuk Pembelian Minyak, Bye Petrodolar?

JAKARTA – Ketika BRICS melanjutkan upaya dedolarisasi, Arab Saudi sedang mempertimbangkan yuan China untuk pembayaran minyak meninggalkan petrodolar. Negara ini terbuka untuk mencoba gagasan baru sehubungan dengan kerja sejenis dengan China. Riyadh sudah pernah menerima undangan untuk mengunjungi Forum Level Tinggi (KTT) BRICS 2024 pada Kazan, Rusia pada Oktober mendatang lalu meningkatkan hubungan dengan China.
Selama dua tahun terakhir, BRICS sudah meningkatkan sikap global. Salah satu bagian penting dari hal tersebut, ialah upaya untuk mengempiskan ketergantungan pada dolar AS. Secara khusus, blok ini telah dilakukan berupaya untuk meningkatkan pengaplikasian mata uang asli merekan menggeser standar sektor ekonomi global dari Barat.
Baca Juga: 159 Negara Siap Ceraikan Dolar AS, Gabung Sistem Pembayaran BRICS
Saat ini, diskusi sedang berlangsung untuk meningkatkan upaya-upaya tersebut. BRICS akan segera mengawasi Arab Saudi merangkul petroyuan untuk penyelesaian minyak meninggalkan petrodolar. Sebuah laporan baru yang mana diterbitkan pada Rabu mencatatkan data keterbukaan pejabat Arab Saudi terhadap gagasan tersebut.
Menteri Industri Arab Saudi Bandar Al-Khourayef menegaskan bahwa merekan terbuka terhadap ide-ide baru termasuk peningkatan pemakaian mata uang Yuan. Diskusi ini terjadi ketika negara ini ingin merangkul teknologi China, seperti kendaraan listrik. Kedua belah pihak telah lama merangkul kerja identik yang mana berkelanjutan meskipun ada ketegangan antara China kemudian Barat.
“Kami percaya Arab Saudi akan melakukan apa yang tersebut menjadi kepentingan terbaik,” kata Khorayef pada sebuah wawancara baru-baru ini, dilansir dari WatcherGuru, Kamis (12/9/2024).
“Namun, saya pikir Arab Saudi akan setiap saat mencoba hal-hal baru serta terbuka terhadap ide-ide baru dan juga kami mencoba untuk tiada mencampuradukkan kebijakan pemerintah dengan perdagangan.”
Baca Juga: Rusia Gelar Latihan Angkatan Laut Terbesar pada Sejarah Modern Mereka
Keputusan untuk meninggalkan petrodolar akan memiliki implikasi yang sangat besar. Negara kaya minyak ini akan memiliki efek yang tersebut tidak ada diragukan lagi pada adopsi yuan secara internasional. Selain itu, hal ini akan melanjutkan penurunan keunggulan greenback pada panggung global.





