Investigasi Teknologi AI di Global Pendidikan, Mayoritas Jawaban Asisten Percakapan GPT Tak Terdeteksi oleh Penguji
Jakarta – Pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin kencang. Pemanfaatannya pun meluas ke berubah-ubah sektor untuk membantu manusia di level yang dimaksud belum pernah terbayangkan. Namun demikian, dalam berada dalam seabreg sisi positifnya, Artificial Intelligence sudah pernah meningkatkan perasaan khawatir menghadapi beragam bentuk penyimpangan pada penggunaannya.
Penggunaan AI dalam bola sekolah di antaranya yang digunakan menjadi perhatian banyak kalangan. Artificial Intelligence telah dilakukan meningkatkan risiko menghadapi isu keaslian jawaban ataupun karya tulis partisipan didik. Pada satu sisi, Teknologi AI diyakini belum cukup mampu menggantikan manusia pada hal gaya penalaran. Namun dalam sisi lain, manusia pada kenyataannya juga tak ringan mengidentifikasi hasil karya AI, diantaranya jawaban ujian.
Hasil riset terbaru University of Reading, Inggris, membuktikannya. Penguji tak mendeteksi sekitar 94 persen dari tugas ujian universitas yang digunakan dibuat menggunakan ChatGPT. “Rata-rata, respons Teknologi AI memperoleh nilai tambahan tinggi dibandingkan respons siswa kami yang sebenarnya,” kata Peter Scarfe, Associate Professor pada Schol of Psychology and Clinical Language Sciences, University of Reading, seperti disitir Tempo dari New Scientist, Selasa, 16 Juli 2024.
Scarfe kemudian timnya menggunakan Chatbot GPT untuk menjawab 63 pertanyaan ujian pada lima modul pada inisiatif studi sarjana psikologi University of Reading. Ujian ini mencakup perihal dengan jawaban singkat dan juga esai panjang. Para peserta didik mengerjakan ujian ini di dalam rumah, sehingga mereka diperbolehkan mengamati catatan kemudian referensi—mereka juga berkemungkinan menggunakan Artificial Intelligence meskipun hal ini tak diizinkan.
Naskah yang digunakan dikerjakan menggunakan Artificial Intelligence yang dimaksud kemudian disisipkan sama-sama tugas yang mana dikirimkan mahasiswa. Para penilai tak diberi informasi bahwa mereka itu sedang memeriksan pekerjaan dari 33 “mahasiswa palsu” yang mana namanya bahkan juga dihasilkan oleh ChatGPT.
Hasilnya mencengangkan. Di semua modul, belaka 6 persen pekerjaan Kecerdasan Buatan yang mana ditandai oleh penilai sebagai kemungkinan bukanlah karya asli mahasiswa. Beberapa modul bahkan identik sekali tak ada karya yang mana ditandai sebagai naskah mencurigakan.
Scarfe mengatakan, teknologi Teknologi AI pada waktu ini cenderung kesulitan pada aspek penalaran yang mana lebih lanjut abstrak dan juga terintegrasi ke pada informasi. Namun, pada antara 63 jawaban AI, ada kesempatan 83,4 persen bahwa karya kecerdasan buatan yang dimaksud mengungguli karya siswa.
Para peneliti mengklaim bahwa riset merek ini sebagai studi terbesar lalu terkuat yang tersebut pernah dilakukan. Kendati hanya sekali memeriksa karya pada acara studi psikologi pada University of Reading, Scarfe yakin hasil riset ini akan bermetamorfosis menjadi perhatian seluruh sektor akademis. “Saya tak punya alasan untuk berpikir bahwa bidang studi lain tidaklah akan menghadapi kesulitan yang dimaksud sama,” kata Scarfe.
Menurut Scarfe, menangani permasalahan ini pada sumbernya hampir mustahil dilakukan. Artinya, kata dia, bumi lembaga pendidikan harus mempertimbangkan kembali bagaimana cara dia menilai. “Saya pikir sektor yang dimaksud secara keseluruhan harus mengakui fakta bahwa kita harus memulai pembangunan Artificial Intelligence ke di penilaian yang tersebut kita berikan untuk siswa kita,” kata dia.
Thomas Lancaster, peneliti komputasi pada Imperial College London, Inggris, telah dapat menebak hasil akhir riset ini. AI, kata dia, dapat menciptakan respons yang mana terdengar masuk akal untuk pertanyaan tekstual yang tersebut simpel serta terbatas. “Ini menunjukkan bahwa penilaian tanpa pengawasan salah satunya jawaban singkat terus-menerus rentan terhadap kecurangan,” kata Lancaster yang mana dikenal sebagai pakar urusan integritas juga plagiarisme dalam globus akademik.
Menurut Lancaster, beban kerja akademikus yang dimaksud diharapkan untuk mengkaji pekerjaan para siswa juga tidaklah membantu kemampuan mereka untuk mendeteksi kecurangan AI. “Penilai pertanyaan jawaban singkat yang dibatasi waktu sangat tiada kemungkinan besar memunculkan tindakan hukum pelanggaran Artificial Intelligence begitu saja,” kata dia. “Saya yakin ini tidak satu-satunya institusi yang dimaksud mengalami hal ini.”
NEW SCIENTIST
Artikel ini disadur dari Riset AI di Dunia Pendidikan, Mayoritas Jawaban ChatGPT Tak Terdeteksi oleh Penguji





